Yasonna Laoly Yakin Maria Pauline Simpan Aset-aset Terkait Kasus L/C Fiktif BNI Di Luar Negeri

Tersangka pembobol kas Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun Maria Pauline Lumowa tiba di Indonesia, Kamis (8/7) pekan lalu. Maria diterbangkan dari Belgrade, Serbia, Rabu (7/7) waktu setempat, melalui mekanisme ekstradisi berdasarkan permintaan Pemerintah Indonesia ke Pemerintah Serbia. Maria yang menjadi buronan interpol sejak tahun 2003 kini ditahan di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly meyakini Maria yang 17 tahun menjadi buronan interpol menyimpan aset asetnya di luar negeri. Aset aset Maria diyakini terkait kasus surat kredit (L/C) fiktif BNI yang dilakukannya 2003 silam. Yasonna menambahkan, setelah proses hukum terhadap Maria di Indonesia rampung, aset asetnya yang ada di luar ataupun dalam negeri akan dibekukan.

"Jadi nanti setelah diproses, kita akan menindaklanjuti dengan permintaan aset asetnya dibekukan yang ada di Belanda atau di mana saja, atau di sini kalau nanti kita temukan akan kita freeze," ujar Yasonna. Terkait kemungkinan aset Maria yang ada di Belanda, Yasonna menegaskan hubungan Indonesia dan Belanda baik. Yasonna meyakini, Belanda, yang sempat menghalangi proses ekstradisi Maria dari Serbia, akan bekerjasama dengan Indonesia terkait pembekuan aset aset Maria di Belanda.

Dan itu akan ditempuh melalui praktik hubungan internasional antara Indonesia dan Belanda. "Bisa (membekukan aset Maria di Belanda, red). Bisa kita akan meminta itu dalam praktik hubungan internasional, tentu kita juga punya hubungan baik dengan Belanda," kata Yasonna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *