Kekurangan Baju APD, Perawat di RSUD Kediri Terpaksa Pantau Pasien Corona via Grup WhatsApp

Kekurangan Alat Pelindung Diri / APD, perawat di RSUD Gambiran, Kediri, Jawa Timur terpaksa pantau pasien lewat grup WhatsApp. Mewabahnya corona di Indonesia membuat oknum tak bertanggung jawab memanfaatkan momen hingga membuat APD menjadi langka dan mahal. Imbasnya, sebuah rumah sakit rujukan di Kediri terpaksa mengurusi pasien melalui grup WhatsApp untuk meminimalisir keluar masuk ruang isolasi.

Sejumlah tenaga medis diRSUD Gambiran, KotaKediri, Jawa Timur, menceritakan pengalamannya selama merawat pasien Covid 19. RSUD Gambiran merupakan rumah sakit rujukan di Kota Kediri yang menangani pasien Covid 19. Salah satunyaMinarsih (47), perawat ruang isolasi RSUD Gambiran.

Minarsih mengatakan, setiap hari mereka membangun komunikasi dan membangkitkan semangat pasien untuk sembuh. Padahal, setiap saat Minarsih dan teman temannya berpotensi terpapar virus corona saat berinteraksi di ruang isolasi. “Kami terpaksa mengurangi intensitas keluar masuk ruang isolasi karena keterbatasan APD. Di zona merah, APD hanya bisa dipakai sekali dan langsung dibuang,” ucap Minarsih dikutip dari Surya , Jumat (3/4/2020).

Sebagai gantinya, Minarsih membuat grup WhatsApp yang terdiri dari petugas ruangan dan pasien. Sehingga komunikasi bisa dilakukan secara daring tanpa harus masuk ke dalam ruang isolasi. Selain menghilangkan kebosanan dan menyampaikan motivasi, grup WA juga dipakai untuk melaporkan kebutuhan pasien, seperti cairan infus yang habis.

Melalui WA pula para pasien bisa saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain, dan membangun semangat sembuh bersama sama. Rekan Minarsih, Tri Sudaryati (54) memberikan kesaksian yang sama. Perawat senior ini bahkan mengalami tekanan mental di luar tempat kerjanya sejak merawat pasien corona.

“Mereka mengucilkan saya karena dianggap bisa menularkan virus. Padahal tidak sesederhana itu,” katanya. Apalagi dahsyatnya pemberitaan tentang penularan corona secara langsung turut memojokkan para perawat. Tak hanya oleh tetangga di rumah, beberapa rekan kerja di rumah sakit turut menjaga jarak dengan para tenaga medis yang bertugas di ruang isolasi.

Mereka tak mau tertular oleh virus mematikan yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Malahan langkah ekstrim dilakukan Minarsih terhadap keluarganya. Sampai sekarang Minarsih tak pernah menceritakan tugasnya merawat pasien corona kepada anak anaknya.

Dia tak ingin mereka berpikir jauh dan ketakutan atas profesi yang dijalani ibunya. Direktur RSUD Gambiran dr Fauzan Adhima mengakui ketersediaan APD memang terbatas. “Pada awal awal sempat ada kesulitan penyediaan APD karena banyak distributor yang menghentikan pengiriman.

Tapi saat ini ketersediaan APD relatif sudah mencukupi. Semoga pasien covid 19 tidak nambah lagi sehingga APD nya tetap tercukupi," ungkapnya. Manajemen rumah sakit sangat mengapresiasi semua tenaga medis, paramedis, dan petugas lainnya yang telah all out memberikan pelayanan terbaik bagi pasien Covid 19 di RSUD Gambiran. (Kompas.com/*) Kegelisahan menjadi perawat pasien corona tak hanya dirasakan oleh Minarsih dan Tri Sudaryati, perawat asal Kediri.

Seorangdokter di Lampung, jadi garda terdepan yang rawat pasien corona juga mengaku takut jadi carrier padahal istri tengah hamil. Seorang dokter bernama Achmad Gozali mencurahkan kecemasannya sebagai salah satu tenaga medis yang harus berhadapan langsung dengan pasien positif corona. Ketakutannya semakin hari makin besar jika dirinya menjadi pembawa virus yang akan menulari orang orang kesayangannya.

Dokter Achmad Gozali memilih cuci tangan puluhan kali dalam jangka satu jam agar tidak tertular Covid 19. Hal tersebut ia ceritakan di akun Instagram @aigozali06 pada Jumat (20/3/2020). Di unggahan di Instagram terlihat dokter Gozali mengenakan alat perlindungan diri (APD).

Dokter Gozali adalah satu salah satu dokter yang merawat pasien Covid 19 diLampung. Ia adalah dokter spesialis paru paru dan pernafasan yang membuka praktik di Klinik Khusus Paru paru dan Pernafasan Medina di Bandar Lampung. Saat dihubungi Kompas.com melalui pesan Instagram, Gozali bercerita jika istrinya sedang hamil dan mereka sedang menantikan kelahirannya anaknya.

Ia merasa khawatir jika menjadi carrier (pembawa) virus dan menularkan ke istri dan pasien yang ia temui saat praktik. “Bagaimana jika saya tidak ketularan, tapi saya jadi karier (pembawa) padahal istri sedang hamil di rumah dan kami sedang menantikan anak kami lahir di tengah pandemi ini," kata Gozali. Ia mengakui setiap pagi merasa ketakutan pasien apa yang akan ia temui saat praktik dan bagaimana jika ia tertular atau menjadi carrier sedangkan kondisi istrinya sedang hamil.

“Betul ga usah panik tapi bohong aja kalau ga ada rasa takut terutama di kami para staf medis. Gw sebagai salah satu garda terdepan yang ngehadepin Covid 19 (dengan udah ada kasus positif di Lampung),” tulis Gozali dalam unggahannya. Ia juga menulis, "Sampai kapan ini semua berakhir, dan masih banyak lagi.” Gozali bercerita saatvirus coronabelum terdeteksi di Indonesia, ia sempat video staf medis di Wuhan dan cukup tahu bagaimana perasaan takut mereka.

Dan saat ini dia merasakan sendiri ketakutan tersebut. "Sama seperti waktu gw liat video2 staf medis di Wuhan overwhelmed sama keadaan ini, gw pikir gw udah cukup tau perasaan takut mereka. Sampai gw ngerasain sendiri.” “Kalau kalian pikir kalian tau apa yang kami rasakan, percayalah kalian ga akan tau," tulis dokter Gozali.

Ia mengaku menulis di Instagram bukan untuk menakut nakuti warga. Namun ia meminta agar warga lebih peduli. Gazali juga berharap masyarakat tidak keluar rumah kecuali hal penting dan jangan pernah sentuh muka sebelum cuci tangan. "Yakni dengan cara mendoakan kami para staf medis, jangan pernah sentuh muka sebelum cuci tangan dan tidak usah keluar rumah jika tidak ada hal penting sekali," jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *