Jokowi Persiapkan Fase New Normal, dr Tirta Sebut Masih Terlalu Dini, Singgung Puncak Covid-19

Fase New Normal saat ini tengah gencar diperbincangkan. Pemerintah nampaknya sedang mempersiapkan kehidupan baru atau new normal pasca Covid 19. Sejumlah persiapan telah dilakukan Presiden Jokowi dalam menghadapi new normal.

Pemerintah sudah menyusun skenario tahapan untuk menerapkan new normal di Indonesia. Tahapan ini guna memulihkan perekonomian yang sempat lumpuh saat pandemi Covid 19. Tahapan new normal ini dimulai 1 Juni 2020 mendatang.

Sejumlah persiapan yang dilakukan antara lain, Selasa (26/5/2020) Jokowi melakukan pengecekan di Stasiun MRT Bundaran HI untuk melihat kesiapan new normal. Selain itu, sebanyak 340.000 Personel TNI Polri juga dikerahkan untuk persiapan new normal. Dalam fase new normal, industri dan jasa dapat beroperasi dengan protokol kesehatan Covid 19.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) nomor HK.01.07/ MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid 19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Hal itu berbanding terbalik dengan pandangandrTirtaMandira Hudhi atau yang akrab disapadrTirta. Dokter sekaligus influencer ini mengkritisi soal aturan thenewnormal.

MenurutdrTirta,newnormalmasih terlalu dini untuk dilakukan. Hal itu diungkapkandrTirtamelalui acara Fakta tvOne yang tayang pada Selasa (25/5/2020). Ia merasa Salat Id di zona hijau tidak masalah dilaksanakan tapi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Yang patut direm adalah mobilisasi, kalau hijau kalian salat Id dengan prosedurnewnormalpakai masker atau tidak cium tangan enggak papa," ujardrTirta. Selain itu, restoran menurutnya juga boleh buka asal dengan penerapan protokol kesehatan. Sedangkan, yang harus dijaga ketat adalah mobilisasi manusia.

"Kalau membuka restoran tapi dengan catatan kapasitas separo enggak papa," katanya. "Tetapi kalau kalian mobilisasi ya jadi merah lagi. Covid itu akan terus ada kita kotrol," ucapnya. Lalu,drTirtamengkritik ungkapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal 'berdamai denganviruscorona'.

Menurut dia, ungkapan itu salah besar. "La ini saya meluruskan maksud PakJokowi, PakJokowimengatakan berdamai la ini salah kaprah, 'Berdamai di sini itu yoh Corona kita damai, bukan gitu pak'," ungkapnya. Seharusnya dijelaskan bahwa Virus Corona ini akan terus ada sehingga mobilisasi masyarakat harus tetap diatur.

"Maksudnya adalah Covid ini akan terus ada, sheetnya banyak tetapi kita kontrol cara kontrolnya dengan cara membatasi mobilisasi masyarakat dengan caranewnormal, pakai masker, jaga jarak, PHBS ditingkatkan," katanya. Dokter Tirta menambahkan, sekolah menurutnya adalah tempat terakhir dibuka saat penerapannewnormal. "Ketiga membatasi tempat tempat yang kerumunan di mana yang paling terakhir sekolah," ungkapnya.

Lalu, dalam kesempata tersebut dokter Tirta menanggapi soal wacana pelonggaran PSBB pada Juni. Menurut dia, hal itu terlalu dini untuk dilakukan. "Wah kalau saya secara pribadi sih enggak kepikiran, itu ranahnya PakJokowi," katanya lagi.

"Tapi kalau saya bilang sih masih jauh, ya masih jauh kalau saya bilang," kritiknya. Pasalnya, puncakCovid 19di Indonesia juga belum diketahui kapan. Dokter yang juga pengusaha ini khawatir bahwa jumlah kasusCovid 19di Indonesia terus bertambah di mana negara lain sudah mulai menurun.

"Ini aja puncak sekarang kita Juni katanya 'Thenewnormal', ini aja puncaknya saja enggak tahu loh kapan ini." "Meroket ini, ketika negara lain turun kita satu satunya meroket bos," ungkapnya. Soal jumlah kasus baru Virus Corona yang sempat mencapai hampir 1.000 orang,drTirtamenduga karena ada kemungkinan.

"Jadi kalau yang saya bilang di sini adalah kita percaya data dari Kemenkes, Kemenkes tadi mengeluarkan naik 900, naik del di sini, kita itu tanya ini ada dua kemungkinan." "Apakah positifnya karena mudik atau karena yang dicek tambah banyak, kalau makin banyak yang dicek makin banyak yang positif," jelas dia. Sehingga, ia menyarankan agar pemerintah menjaga ketat mobilisasi masyarakat minimal tujuh hari setelah lebaran.

"Nah kita jaga jaga ini puncak apa enggak, kita tunggu dulu, makanya saya bilang sampai h+7 hari sampai h+7 lebaran itu kalau bisa mobilisasi dibatasin," ucap dia. Sementara itu, dilansir dari Kompas.com, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyebut sebanyak 340.000 personelTNI Polriakan dikerahkan untuk persiapan tatanan kehidupan baru ataunewnormalselama pandemiCovid 19. "Anggota (TNI) Polri yang akan dilibatkan 340.000," kata Hadi seusai mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan prosedurnewnormaldi stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2020).

Menurut Hadi, 340.000 personel itu akan dikerahkan di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota yang sudah diputuskan. Keempat provinsi yang dimaksud yakni, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan Gorontalo. Ada 1.800 objek yang akan dijaga di empat provinsi tersebut. Hadi menyebut, personelTNI Polriakan memastikan masyarakat menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularanviruscoronaCovid 19, seperti memakai masker dan menjaga jarak fisik.

Selain, kapasitas ruang publik atau tempat umum juga akan dibatasi. "Misalnya mal yang kapasitasnya 1.000, kita batasi hanya 500," ucap Hadi. Dengan kehadiran personelTNI Polridi ruang publik, diharapkan masyarakat lebih tertib dan taat dalam mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah penularanviruscorona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *