20 Tahun Sudah Nurminah Terpaksa Mengurung Adiknya Pengidap ODGJ Layaknya di Dalam Penjara

Nurminah, seorang janda tua warga RT 6 Desa Pandahan, Kecamatan Batibati, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), menanggung beban hidup yang cukup berat. Di tengah usianya yang beranjak senja, tenaga yang kian melemah dan kondisi ekonomi yang seret, ia juga masih harus mengurusi sang adik, Rafudin yang mengalami gangguan kejiwaan. Tak mudah baginya merawat adik laki lakinya yang kini berusia lebih 40 tahun tersebut.

Apalagi untuk sekadar memenuhi kebutuhan harian pun kian berat terasa. Maklum Nurminah hanya seorang petani kecil yang luasan garapan sawahnya tak seberapa. Guna mencukupi kebutuhan, ia nyambi menjadi pengrajin tas (bakul) purun yang hasilnya pun hanya seharga sepiring nasi ayam penyet.

Tak memungkinkan baginya untuk mengobati sang adik karena tak ada biaya. Dengan berat hati, ia mengurung sang adik di ruangan belakang rumahnya di sekitar dapur. Di sudut kiri berukuran sekitar 2×1 meter, ia bikin kurungan permanen berbahan kayu galam.

Bentuknya persis menyerupai penjara. Di tempat sempit itu lah sang adik menghabiskan hari demi hari. "Beginilah keadaan kehidupan saya, beginilah keadaan adik saya," tutur lirih Nurminah, Kamis (11/6/2020).

Puluhan tahun sudah Rafudin mengalami gangguan kejiwaan. Selama itu pula warga RT 6 Desa Pandahan, Kecamatan Batibati, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), ini menghabiskan hari harinya di balik kurungan bak penjara. "Sudah lama sekali. Kalau 20 an tahun, ada, lebihnya saja lagi," tutur Nurminah, sang kakak, Kamis (11/6/2020). Janda tua ini mengatakan dirinya terpaksa mengurung sang adik demi kebaikan bersama.

Pasalnya, dulu pernah dilepas dan berkeliaran di lingkungan sekitar namun kemudian kerap memunculkan masalah. Masalah apa? "Bisa mengamuk. Karena itu ketimbang membahayakan orang lain, lebih baik dikurung saja di rumah meski berat hati," ucap Nurminah.

Di dalam kurungan kayu galam yang menempal di dinding bagian dapur berukuran sekitar 2×1 meter itulah Rafudin melewati hari demi hari. Semua dilakukan di situ, seperti makan maupun buang air kecil dan besar. Ada dua lubang ukuran sedang di lantai di area kurungan itu.

Fungsinya antara lain untuk buang air kecil dan atau kotoran. Namun Nurminah sangat telaten dan sabar. Ia rutin membersihkan sehingga lantai selalu bersih dan tak bau.

Tak sehelai benang pun menempel di tubuh Rafudin. Saat banjarmasinpost.co.id mendekat, nyaris tak ada ekspresi apa pun dari wajahnya. Lelaki 40 an tahun lebih itu menyandarkan tubuhnya di pojok dengan posisi duduk sembari terus menangkupkan kedua betisnya.

Sesekali bola matanya menatap kosong. Senyum kadang mengembang di bibirnya yang bersanggulkan kumis hitam yang cukup tebal. Meski tubuhnya tampak ringkih, namun terlihat bugar.

"Dia makannya gancang (kuat). Makanya sehat kan badannya," tandas Nurminah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *